Pilkada Paska Covid19

Kehidupan masyarakat global paska pandemik Covid19 dimungkinkan tak lagi sama. Meskipun vaksin ditemukan dan vaksinasi dilakukan. Psikologi masyarakat terdampak pandemik akan mengalami perubahan, seperti perilaku physical distancing (sebut saja: PhyDi) atau perilaku jaga jarak. Demi keselamatan sekaligus juga menjamin hak politik warga negara, berbagai aktifitas pilkada yang Physical-Touching perlu diubah menjadi PhyDi.

Istilah Physical Distancing mengemuka sebagai ganti dari Social Distancing diumumkan oleh WHO tanggal 20 Maret melalui konperensi pers di Geneva. Seketika semua pihak menyebut dan menyuarakan sebagai upaya mengefektifkan pencegahan. Istilah tersebut baru dan memerlukan penyuluhan secara massif agar disiplin PhyDi bisa efektif di masyarakat.

KPU pro-aktif melakukan Sosialisasi dan Edukasi COVID19

Mengubah kebiasaan tidak mudah, namun menjadi efektif ketika taruhannya adalah keselamatan jiwa. Kebutuhan mengubah perilaku ini setara dengan upaya bertahan hidup atau survival. Berbagai bentuk aktifitas Physical Touching perlu diubah dengan peraturan oleh pihak berwenang, mulai pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian/Lembaga serta dunia usaha.

Dalam kehidupan sosial saat ini, perilaku PhyDi membuat revolusi hidup sehari-hari. Dunia usaha harus membuat kalkulasi ulang terkait berbagai usaha menyangkut melibatkan fisik orang per orang, seperti bioskop, kereta api, pesawat dan sebagainya.

Paling tidak perilaku PhyDi dilakukan sampai vaksin ditemukan dan vaksinasi global telah terlaksana yang belum tentu dalam 2 tahun kedepan selesai. Bila tidak disiplin, taruhannya adalah nyawa sendiri.

Pilkada Sarat Physical Touching

Pilkada adalah ajang mobilisasi sosial yang melibatkan setiap warga negara berusia 17 tahun atau telah menikah. Pada hari pemungutan suara sekira 60-80% orang setiap daerah yang menyelenggarakan pilkada berkumpul di TPS. Aktifitas physical touching pasti terjadi, mulai bersalaman, duduk antri dengan kursi berdekatan, berteguran atau ngobrol dalam jarak dekat.

Belum lagi para saksi dan tim sukses bayangan yang sibuk mengawal pendukung paslonnya, biasanya ngajak ngobrol pemilih. Sebagian diantaranya berbisik-bisik meyakinkan pemilih untuk memilih jagonya.

Sebelum hari pemungutan suara, selama 71 hari dilakukan masa kampanye. Berbagai pertemuan terjadi, mulai dari pertemuan terbatas sampai model rapat umum. Biasanya digelar paslon minimal sekali menghadirkan artis dan grup musik.

Ditengah masa kampanye, jajaran penyelenggara juga sibuk melakukan pengepakan dan distribusi logistik. Mensortir dan melipat surat suara, memilah milah perlengkapan di TPS berlangsung melibatkan banyak orang. Biasanya di gudang atau aula pertemuan yang disulap jadi gudang.

Sebagian jajaran penyelenggara sibuk merekrut dan melakukan bimtek untuk KPPS, tentu dilakukan dalam ruang pertemuan. Sebagian kegiatan bimtek dilakukan dengan keterbatasan ruangan dan peserta yang banyak. Tak jarang tempat duduknya rapat antar kursi. Disela bimtek, diberikan ice-breaking agar peserta tak bosan atau mengantuk.

Tahapan pilkada yang ditunda oleh KPU mulai tanggal 21 Maret pun masuk kategori aktifitas yang penuh physical touching. Verifikasi faktual syarat dukungan bapaslon perseorangan dan coklit data pemilih. Kedua kegiatan tersebut selama ini dilakukan dari rumah ke rumah.

Merubah Tujuh Tahapan

Pilkada sejatinya kontestasi politik lokal yang dilembagakan secara teratur dan damai. Hak politik warga negara setiap lima tahun sekali menilai, mengevaluasi dan memilih secara langsung pemimpin lokalnya. Negara menjamin hak tersebut terselenggara sebagai legitimasi politik kepada pemimpin lokal. Pra-syaratnya dilaksanakan dalam suasana terjamin keamanan dan keselamatan pemilih.

Pilkada yang PhyDi menjadi kebutuhan karena Covid19 membangun cara pandang baru, kita selamat bila tak berdekatan. Sejumlah aktifitas teknis penyelenggaraan pilkada dipertimbangkan untuk diubah dari sarat dengan Pyhsical Touching menjadi sarat dengan Pyhsical Distancing (PhyDi).

Terdapat tujuh tahapan pilkada yang sarat dengan Physical Touching dan perlu dicari alternatif sehingga bisa berlangsung dengan pendekatan PhyDi, yaitu:

  1. Pencocokan dan penelitian (Coklit) data pemilih dari rumah kerumah
  2. Verifikasi faktual syarduk bapaslon perseorangan metode sensus dari rumah ke rumah
  3. Kampanye model pertemuan terbatas, rapat umum dan debat kandidat
  4. Bimtek PPDP dan KPPS
  5. Pengepakan dan distribusi logistik
  6. Pemungutan dan penghitungan suara
  7. Rekapitulasi hasil pemungutan suara

Ketujuh tahapan tersebut memungkinkan untuk disesuaikan dengan tiga level penyesuaian, mulai dari tingkat juknis dalam bentuk keputusan, tingkat peraturan dan tingkat undang-undang. Perubahan tersebut menjadi keniscayaan.

Saat ini sedang berproses perubahan gaya hidup masyarakat secara massif dan global. Masker akan jadi gaya hidup baru seperti orang memakai pakaian. Bersalaman tangan ketika bertemu akan bergeser menjadi salam Covid19.

Budaya bekerja, belajar, belanja, berobat dan bersosialisasi dari rumah membuat hidup masyarakat semakin digital. Tuntutan perubahan teknis pilkada dengan instrumen digital menjadi kebutuhan. Secara bersamaan KPU tengah melakukan digitalisasi pilkada pada sejumlah tahapan yang berjalan.

Digitalisasi tahapan pilkada kini bukan sebagai kebutuhan perkembangan jaman namun kebutuhan untuk menjamin rasa aman dan nyaman semua pihak yang terlibat. Tentu dengan tetap berpegang dengan prinsip pemilihan yang demokratis.

Sore telah tiba, saya ada janji diskusi zoom dengan Teman generasi 98. terngiang kembali suara Kaka Slank, “…Hari berganti angin tetap berhambus, Cuaca berubah daun-daun tetap tumbuh, Kata hatiku pun tak pernah berubah, Berjalan dengan apa adanya…“. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *