Menjahit Kemanusiaan

Saat Covid19 merebak ditengah maret, selain mengikuti dan memutuskan sejumlah kebijakan KPU dirapat pleno, sy ikutan melawan Covid19 dari rumah.

Diktum Gus Dur salah satu pertimbangannya, “…yang lebih penting dari urusan politik adalah kemanusiaan..”

Akhirnya Covid19 masuk ke Kalbar, saya japri Teman Dompet Ummat. Kami diskusi singkat, selebihnya kerja langsung.

Langkah taktis, fokus dan aktif dilakukan. Teman-teman juga konsultasi dengan Pak Salman Busrah dan Brow Hajon Mahdy Mahmudin. Keduanya tak lelah mendukung DU tanpa pamrih.

Dimulai bantuan langsung ke Tenaga Medis, ambulans tetap stand by, paket sembako untuk yang kurang beruntung, membuat dan distribusi Disinfektan Chamber dan menyalurkan bantuan APD ke seluruh Kalbar.

Salah satu kebutuhan mendesak juga mengadakan masker. Saat itu orang masih senang pakai masker bedah. DU fokus bagikan masker kain. Ada beberapa manfaat didalamnya.

Pertama, saat itu masker bedah masih relatif sulit didapat, bahkan sebelumnya sempat harganya melambung. Bila tak ada upaya alternatif, pelaku ihtikar semakin merajalela.

Betapa menggiurkan, masker bedah hanya bisa sekali pakai. Silahkan hitung biaya rumah tangga untuk masker. Keuntungan pelaku ihtikar jangan ditanya. Masker kain pasti merisaukan penimbun masker bedah.

Kedua, masker kain bisa dibuat swadaya oleh orang dirumah seperti warga Ceko. Disana semua kalangan, termasuk pejabat memakai masker kain saat keluar rumah. Ceko relatif berhasil menekan penyebar Covid19.

Itulah sebabnya WHO menghimbau masyarakat yang sehat memakai masker kain dan diamini banyak negara.

Ketiga, berbeda di Ceko, gerak cepat produksi masker kain disambar UMKM konveksi. Namun tak bisa menunggu lama, Dompet Ummat ambil langkah produksi sendiri.

Alumni program mahir menjahit sejak 2013 dihubungi. Sebagian angkat tangan. Mereka menolak… bukan tak peduli tapi karena order jahitan sampai lebaran sudah penuh. Alhamdulillah. Saya bersyukur mendengarnya.

Ini salah satu program pemberdayaan ekonomi DU yang berhasil. Bukan hanya menyalurkan dana dan project as usual. Program disusun sesuai kebutuhan dan berkelanjutan.

Manfaat utamanya bukan sebatas citra lembaga atau citra yang mendampingi tapi kehidupan subjek menjadi lebih baik dan semakin mandiri. Fokus utamanya selalu pada upaya pengurangan kemiskinan.

Kabar baik berikutnya beberapa alumni program masih longgar ordernya. Tak pakai lama, masker kain langsung dibuat. 5.000 masker kain diproduksi sendiri dan dibagikan kepada yang membutuhkan.

Prioritas membagikan masker kain pun diatur dengan detail. Tidak boleh asal bagi, prioritas utama dibagi kepada kaum yang kurang beruntung, pencari nafkah dan terpaksa harus tetap keluar rumah.

Beberapa hari ini akun medsos DU memposting gambar penerima program menjahit membuat masker. Dulu skill menjahitnya terbatas. Teringat salah satu penjahit dulu membuat pakaian saya jadi unik enam tahun lalu hehehe.

Itu dulu, sekarang mereka telah mahir. Ordernya tak lagi sepi. Kualitas menjahit keren. Wajah sedih dan susah berganti senyum dan semangat. Mereka sadar ini bukan sekedar jahit masker, tapi menjahit kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *