Fiz: Sisi Lain Marketing Politik

Pagi hari ini Indonesia ditinggal pergi Prof. Firmanzah, akademisi muda ekselen berusia 44 tahun yang berhasil mendobrak disiplin ilmu manajemen. Selama ini ilmu manajemen hanya berkutat pada aspek bisnis atau organisasi perusahaan. Pemikirannya dituangkan lewat buku Marketing Politik menegaskan realitas sosial-politik yang berubah perlu pendekatan baru ilmu pengetahuan yang bersifat multidisiplin.

Sebelumnya, pendekatan memahami perilaku pemilih lebih banyak didalami oleh mereka yang memiliki latar belakang ilmu politik atau komunikasi serta praktisi lembaga survei politik atau konsultan politik. Sejumlah intelektual lain yang memotret realitas sosial-politik dengan multidisiplin kebanyakan jenjang pendidikan yang ditempuh tidak linier.

Sementara Fiz menempuh jenjang pendidikan S1 sampai S3 secara linier pada ilmu manajemen (pemasaran). Fiz membangun pendekatan baru memahami perilaku pemilih dengan basis keilmuan yang menjadi otoritasnya, yaitu marketing. Namun tidak seperti akademisi ilmu manajemen yang biasanya sangat berjarak dengan disiplin ilmu lain, apalagi dengan politik. Fiz menjamah disiplin ilmu lain untuk meramu marketing politik yaitu politik, sosiologi, psikologi massa dan filsafat. Marketing politik menurut Fiz adalah sebuah cabang ilmu yang baru saja tumbuh (2012).

Marketing Politik sebagai cabang ilmu yang baru saja tumbuh (2012)

Momentum waktu terbitnya buku tersebut tepat dimana kebutuhan para politisi untuk memahami perilaku pemilih sedang tumbuh laksana jamur dimusim hujan. Fiz meyakini kontestasi pemilihan (presiden) langsung dimulai tahun 2004 serta pilkada langsung sejak tahun 2005 secara demokratis menghadirkan ruang kompetisi yang salah satunya bisa dimenangkan dengan pendekatan ilmu pengetahuan. Tawaran pemikirannya mengisi ruang kosong dalam praktik marketing politik yang telah berjalan lama tanpa pedoman ilmu pengetahuan yang dalam.

Tahun 2007 saya sempat berkomunikasi dengan Fiz melalui SMS dan telepon untuk mengundangnya ke Pontianak membedah buku Marketing Politik. Sebagai penikmat ilmu marketing, buku tersebut menggairahkan untuk dijamah secara utuh. Selama ini diskursus marketing Indonesia dipenuhi oleh dua guru, Hermawan Kertajaya dan Rhenald Kasali. Sayangnya karena kendala tertentu, acara bedah buku batal dilaksanakan. Syukurnya saya sempat berdialog dengannya pada forum lain.

Sosok Prof. Firmanzah menjadi menarik untuk dilihat dari kenapa ia yang tumbuh dan besar dalam dunia ilmu manajemen sejak tahun 1994 sampai menyelesaikan jenjang S3 dan bergelut pula dalam praktik manajemen bisnis kemudian menulis buku marketing politik. Latar belakang organisasi mahasiswa tak melekat pada dirinya, mungkin Ia fokus dengan studi S1 yang diselesaikan dalam waktu 3,5 tahun di tahun 1998. Selanjutnya jenjang magister dalam waktu sekira 2 tahun dan setelah itu ia menempuh studi ilmu manajemen di Prancis sampai tahun 2005.

Sisi lain yang menjadi mungkin membuatnya menulis marketing politik tak lain karena ia bagian dari kohor 98. Kohor 98 lebih luas dari istilah yang kerap disebut Angkatan 98. Angkatan 98 dapat disebut sebagai kohor tersendiri dalam bidang politik karena memenuhi kondisi adanya peristiwa heroik yang mengubah nasib bangsa (Rhenald Kasali: 2000).

Kohor 98 memiliki pandangan hidup yang merujuk pada cita-cita gerakan reformasi 98, yaitu kesadaran demokrasi yang sangat baik serta relatif memiliki mimpi hari esok Indonesia yang demokratis. Menikmati hari hari kini dengan mendengar lagu lawas Guns Roses, Bon Jovi, Slank atau Iwan Fals.

Fiz mungkin tidak menjadi aktor utama dari UI pada saat gerakan reformasi 98 yang saat itu dimotori Rama Pratama sebagai Ketua Umum SMPT UI. Fiz memilih bergelut dalam jalur studi ilmu manajemen dan pada saat yang dibutuhkan ia menghadirkan pendekatan baru dalam kontestasi politik yang mendapat sambutan antusias aktifis politik negeri. Selain marketing politik, mungkin para pemimpin partai politik atau politisi muda perlu juga melihat buku lainnya, Mengelola Partai Politik: Persaingan dan Posisioning Ideologi Politik), 2008.

Selamat jalan Fiz… Bapak ilmu marketing politik. Semoga jalan baru ilmu marketing politik yang dirintisnya dilanjuti oleh akademisi ilmu marketing lainnya dengan tujuan mulia, kehidupan politik (demokrasi) Indonesia yang adil dan beradab. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *