Kita… Bangsa Demokratis

2 Maret 2022… Sore itu agak mendung, kupandang laut dari bawah pohon sukun. Menghirup udara sekitarnya dan sejenak merenung sambil mengingat pernyataannya yang ditulis Cindy Adams. Setelahnya mendatangi perpustakaan Biara SVD Santo Yosef, bertemu dengan salah satu Pater. Diperpustakaan biara saya melihat buku Cindy Adams dan membacanya sejenak di sudut halaman. Saya diperkenan duduk di kursi yang biasa didudukinya dan diskusi dengan Pater tahun 1934-1938. Perjalanan terakhir hari itu beranjangsana ke rumah pengasingannya.

Dua hari di Ende melakukan napak tilas kehidupan Bung Karno yang dalam pembuangannya berbuah perjalanan spiritual kebangsaan. Penggalian tradisi masa lalu bangsa Bung Karno berhasil sampai kedasarnya dan mendapat lima butir mutiara yang indah. Kemudian tanggal 1 Juni 1945 disampaikan dalam rapat BPUPKI dan disebutnya sebagai Pantja Sila (Pancasila) atau lima dasar.

Pertanyaan yang muncul dalam dua tahun terakhir adalah, apa bentuk tradisi masa lalu yang digali sampai ke dasarnya?. Kapan terbentuknya tradisi tersebut?. Ada dimana saja tradisi tersebut?. Apakah tradisi tersebut masih ada dikehidupan modern saat ini?. Dan sejumlah pertanyaan lainnya. Bagi saya ada dua sisi yang penting dari hal ini, pertama, agar original-intent atau asbabul wurud terkontruksi secara utuh. Kedua, menegaskan sila-sila tersebut sebagai jati diri bangsa yang bermanfaat menjadi api pembangunan.

Catatan masa lalu bangsa masih banyak yang hilang. Jangankan masa lalu yang berabad lalu, catatan perjalanan pemilu Indonesia tahun 1945 sampai 1959 belum terangkai dengan baik. Tidak utuhnya catatan masa lalu bangsa membuat kita menjadi bangsa amnesia. Perdebatan atau mendialogkan pancasila secara utuh sulit terwujud dan membuka banyak ruang penafsiran yang tidak kokoh bila tidak diketahui detail original-intent. Amnesia ini perlu disembuhkan agar memori kolektif bangsa dapat dibangun secara utuh dan dengan sendirinya menguatkan ideologi negara. Siapakah kita?.

Dampak dari terkontruksinya secara utuh menjadi sumber nilai dalam gerak pembangunan. Ia menjadi bara api yang memberi daya gerak otentik kebangsaan. Mari kita ambil contoh sederhana dalam dunia kerja menerapkan ilmu manajemen. Dalam diskursus ilmu manajemen modern dikenal adanya manajemen gaya amerika, manajemen gaya jepang, manajemen gaya china dan manajemen gaya korea. Penyebutan nama negara tersebut sebagai pengakuan atas keunikan gaya kerja setiap negara yang dibangun dari nilai uniknya yang bersifat positif. Pada akhirnya berkontribusi pada efisiensi, efektifitas dan produktifitas usaha. Mengembangan budaya kerja berbasis nilai budayanya, keempat negara tersebut kini dominan dalam skala bisnis global.

Kembali pada pertanyaan akhir paragraf sebelumnya, lantas siapa kita?. Ada sejumlah cara menggalinya dimasa kini yang sudah maju. Namun saya menggunakan cara sederhana dengan penelusuran jejak para aktor, Saya sempat berpikir, apa saja bacaaan para founding parents. Siapa saja teman diskusinya?. Bagaimana kondisi sosial politik mainstream saat itu?. Tiga pertanyaan itu yang menarik minat saya. Menjawab pertanyaan tersebut memerlukan waktu yang tidak singkat dan perlu kehati-hatian.

Baru tiga tahun saya mencoba mencari jawab siapa kita, berawal menggali tanggal lahir penyelenggara pemilu di Indonesia, berlanjut pada menggali jejak masa lalu pemilu dijaman hindia belanda, penjajahan inggris sampai dengan jejak demokrasi di nusantara. Beberapa buku menjadi referensi yang kemudian terlihat garis merahnya tentang siapa kita. Kesimpulan saya bahwa kita bangsa demokratis. Kehidupan masa lalu yang khas dengan gotong royong, musyawarah, mufakat dan berbeda pendapat menjadi nilai-nilai demokrasi masa lalu atau bisa disebut demokrasi tua.

Garis sejarah ini dapat dibentang dalam satu perjalanan panjang bangsa yang terdiri dari tujuh fase perkembangan demokrasi di Indonesia[1]. Fase pertama menjadi tradisi dasar yang mengalami penyempurnaan dan ujian pada fase kedua. Mengalami ujian kembali lebih kencang pada fase ketiga. Bung Hatta menyebutnya, “…bahwa demokrasi Indonesia yang asli kuat bertahan, liat hidupnya…”.

Saat ini perlu dilakukan rekontruksi narasi Indonesia bangsa demokratis secara otentik, yaitu demokrasi pancasila. Narasi yang digali mengawinkan pemikiran founding parents dan puzzle terserak praktik demokrasi tua yang kini masih hidup dan dapat digali diberbagai daerah Indonesia. Narasi bangsa demokratis tersebut disusun minim tafsiran atau pendapat para ahli masa kini, melainkan hanya menghimpun saja. Lain tidak agar otentisitasnya terjaga.

Tahapan pemilu 2024 akan dimulai 14 Juni 2022, tentu akan ada berbagai program literasi atau pendidikan atau sosialisasi pemilu dan demokrasi oleh penyelenggara pemilu maupun berbagai kementerian dan pemerintah daerah. Sudah saatnya pada kegiatan tersebut kita berhenti menjelaskan bahwa demokrasi berasal dari Athena, Yunani disertai penjelasan praktiknya. Narasi bahwa demokrasi barang impor atau demokrasi bukan tradisi Indonesia melainkan Khilafah perlu didialogkan.

Saatnya kita menarasikan bahwa Indonesia kita… bangsa demokratis dengan praktik demokrasi tua diberbagai daerah nusantara. Beberapa diantaranya dapat disebut, tradisi di Minangkabau dan Minahasa yang justru lebih tua dari Yunani. Daerah-daerah lain di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi hingga Papua dimungkinkan sama. Sejak tahun lalu hal ini telah saya lakukan ketika berkunjung ke beberapa daerah sampai terakhir ke Mamasa dan Palu. Wallahu a’lam bisshowab…


[1] Viryan, Asal Usul Manajemen Pemilu Indonesia, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2022, hlm. 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *