#EkspedisiDemokrasiTua

Jauh sebelum daulat rakyat bernama demokrasi lahir di Yunani Kuno, nilai dan budaya daulat rakyat telah dipraktikan leluhur bangsa kita dengan beragam nama. Namun jejak tersebut tenggelam oleh kita sendiri yang tidak pernah menarasikan masa lalu Indonesia adalah bangsa demokratis. Narasi bangsa demokratis tenggelam dalam palung sejarah yang sulit untuk ditemukan. Menggali kembali serta mengutamakannya dalam diskursus ideologi bangsa dan demokrasi pancasila saat ini menjadi kebutuhan. Bukan hanya sebatas menguatkan jati diri bangsa, namun sebagai pondasi nilai membangun keunggulan bangsa mewujudkan cita kemerdekaan dengan berdiri diatas kaki sendiri.

Lima tahun terakhir mengemban tugas menjadi Anggota KPU RI periode 2017-2022 semakin terasa ada yang hilang dalam garis panjang perjalanan demokrasi di Indonesia. Setiap tahun teman Bawaslu dan DKPP mengirim undangan peringatan hari lahirnya, sementara KPU sebagai penyelenggara pemilu tidak pernah mengirim undangan perayaan. Undangan perayaan tersebut bukan sebatas seremonial belaka. Melainkan sebagai sarana merawat ingatan kolektif akan perjalanan demokrasi negeri yang panjang, bahkan ternyata sangat panjang.

Selain seremoni, didalamnya ada narasi masa lalu yang penting diingat betapa mimpi demokrasi itu menjadi mimpi kolektif pendiri negeri. Demokrasi modern yang berkembang didunia akhir abad 19 telah pula menjadi pilihan founding parents. HOS Tjokroaminoto tahun 1916 menyampaikan pada kongres pertama SI pentingnya pembentukan parlemen sebagai perwujudan prinsip demokrasi. Tan Malaka, Hatta dan Darsono berjumpa di Berlin tahun 1922 lima hari mendiskusikan Indonesia dan demokrasi sepenuhnya. Soekarno menulis tentang Demokrasi dengan judul Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi di Fikiran Ra’jat tahun 1932. Puncak pertemuan pikiran dan gerakan para tokoh pada GAPI tahun 1939 dan puncak perumusannya pada rapat BPUPKI dan PPKI tahun 1945.

Pandangan para tokoh tersebut menginginkan demokrasi ala Indonesia. Sejumlah tulisan dan catatan perjalanan menunjukkan hal tersebut. Mungkin ada baiknya dihimpun pikiran-pikiran demokrasi para pendiri negeri dihimpun dengan episode waktu. Langkah ini bisa semakin menguatkan merekam jejak otentik demokrasi ala Indonesia yang diinginkan founding parents secara utuh dan runut.

Beberapa orang founding parents kerap menyebut demokrasi Indonesia yang berasal dari tradisi leluhur masa lalu yang hidup diberbagai daerah nusantara. Tradisi demokrasi masa lalu disebut beberapa pihak bahkan telah ada sebelum tradisi demokrasi Yunani Kuno. Paling tidak yang telah teridentifikasi seperti di Minahasa dengan penanda Watu Penabetengan dan Minang dengan tradisi mufakat nagari. Sangat mungkin didaerah lain juga telah ada, seperti keberadaan Desa Yapit di Klaten misalnya.

Menelusuri jejak demokrasi tua untuk merekontruksi tradisi demokrasi yang telah dipraktikan berguna untuk mengetahui DNA demokrasi Indonesia. Nilai gotong royong, musyawarah, mufakat sejak kapan tumbuh, bagaimana bentuknya, ada dimana saja. Selain pertanyaan tersebut, ada pertanyaan mendasar yang penting untuk direkontruksi, yaitu pola daulat rakyat seperti apa yang telah dipraktikan dan bagaimana relasi antara daulat rakyat dan daulat tuan saat itu?.

Menjawab ini memerlukan penelusuran lebih dalam, diperlukan sebuah ekspedisi. Menjelajah pelosok negeri, mengidentifikasi dan menghimpun data primer dan sekunder beragam tradisi demokrasi tua yang telah dipraktikan sejak dulu. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote. Keluarannya ada semacam peta demokrasi tua Indonesia. Peta ini diharapkan dapat menjadi bukti otentik betapa memang Indonesia Bangsa Demokratis. Peta ini pula yang telah digali Bung Karno dan keluar lima mutiara yang Indah saat Ia berada di Ende.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *