Kenormalan Baru

Ketika kapsul espresso habis, idealnya beli dulu baru mesinnya dipakai. Begitu salah satu rutinitas ngopi saya. Cocok rasanya dengan mesin ini untuk ngopi espresso sehari-hari.

Menjadi masalah ketika kapsulnya habis, toko-toko tutup, termasuk toko Ace Hardware di Kemang Village yang menjualnya. Sementara A-Z From Home harus ketat. Ada juga opsi shopping from home, namun lumayan selisih harganya😊😊😊.

Pilihannya sementara mesin kopi berfungsi menjadi tempat air panas. Penyajian ala kopi tubruk. Seperti ngopi sahur tadi.

Anggaplah ini kenormalan baru atau normal baru yang jadi konsekwensi dari masa wabah Covid-19. Banyak sekali aktifitas yang berubah dari kondisi sebelumnya (Old Normal atau Normal Lama) dan menghadirkan kondisi penyesuaian (New Normal atau Normal Baru).

Hal ini saya sampaikan saat diskusi online kemarin di JPPR dan KAHMI Sumut. Sebelumnya saya menyebut sebagai gaya hidup baru terkait kebutuhan adaptasi hidup dimasa Covid-19.

Sebelum wabah Covid-19 melanda, rapat online hanya menjadi milik pegiat atau pekerja IT. Kalaupun ada yang lain, biasanya terdampak dari gaya kerja anak IT.

Rapat online pernah saya jalani saat terlibat dalam satu program Social Entrepreneur tengah dekade 2000. Saat itu kebutuhan koordinasi dengan beberapa teman mendesak. Satu di Kalimantan, satu di Nusa tenggara, 4 di Jawa dan 2 di Sumatera. Mau bertemu offline ongkos pesawat dan lain-lainnya lumayan.

Awalnya digunakan YM, aplikasi yang hanya dimengerti generasi 90-an. Kemudian berpindah memakai Skype. Setelah program voluntary tersebut selesai.

Semenjak kebijakan WFH digaungkan, seketika Zoom, Google meet hingga Slack populer. Menjadi solusi dan sarana WFH. Begitu pula School From Home. Hingga Pray From Home.

Mobiltas fisik manusia berubah menjadi mobilitas virtual. Masalah sekarang dihadapi perusahaan transportasi udara global, termasuk aplikasi pembelian tiket dan hotel. Aplikasi Traveloka sudah 2 bulan tak saya buka.

Kenormalan baru menjadi tak terelakkan untuk dijalani. Aktifitas keseharian tengah berubah. Adaptasi teknis pilkada pun perlu dilakukan. KPU sejak akhir maret mereview sejumlah ketentuan teknis pilkada. Dengan keluarnya Perppu Pilkada upaya mematangkan adaptasi teknis mendapat kepastian hukum. Level perubahan sampai tingkat peraturan KPU saja.

Ada tiga kata kunci adaptasi teknis Pilkada di masa Covid19, yaitu physical distancing, SDM sehat dan beban kerja rasional. Semoga peristiwa wafatnya petugas pemilu sejak tahun 1955 hingga 2019 bisa berakhir. Mudah-mudahan berhasil…

“It is not the strongest of the species that survives, nor the most intelligent that survives. It is the one that is most adaptable to change…”
(Charles Darwin: Origin Of Species)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *